Ketika Lebainya Kau, Aku dan Dia

Belalang Kayu Nikon D3000 : f/7 — 11/50 — 300mm — ISO100

Lebai (s): Berlebih-lebihan. Bersikap berlebih-lebihan terhadap suatu masalah atau peristiwa. Berasal dari kata lebih yang dirubah cara membacanya dengan mengikuti cara membaca dalam bahasa Inggris pada huruf (i), Leb-ai-h – lebaih – lebai.

“Apa yang kau tulis?” tanyaku sambil memijat pundak si gondrong kribo ala Ahmad Albar dari belakang. Sekilas dari layar laptopnya, terlihat status galau.

“Jangan kau intip, aku sedang palak ni…, hilang mood aku pulak nanti”, balasnya sambil menggoyang pundak. “Kau lihat status dia… bikin aku naik darah…”, tunjuknya ke arah benda baru yang sekarang menemaninya kemana-mana.

“Gak ah, tadi kau bilang jangan. Sekarang suruh lihat”, balasku dan duduk dibangku sampingnya. Kucomot pulut kuning, sambil mengunyah, aku menasihatinya, “Buat apa ribut di medsos. Mau satu dunia tahu?”.

“Ini udah keterlaluan. Apa dia tidak mikir, siapa saja di pertemanan kami?. Memangnya dunia akan kasihan dengan kandasnya kisah kami? Coba kau pikir…!”, cerocosnya membuat air liur muncrat kemana-mana. Sambil bersungut-sungut ia menambahkan, “Kalau menurut dia aku kurang baik, its oke. Aku masih bisa jawab aku kurang baik. Tapi…”, ia diam dan menghela napas.

Melihatnya terpakur gagu, aku tidak bertanya. Tanganku teracung memberi kode kopi sikhan kearah pelayan. Ku comot rokok si Gam Kribo yang tergeletak nganggur diatas meja. Setelah sekali isapan dalam, barulah bersuara. “Setiap orang butuh alasan untuk membenarkan dirinya. Mungkin ia ingin menyampaikan pesan itu secara halus..”.

“Apa kau pikir aku salah? Kau sehari-hari tau aku bagaimana. Iya, aku nggak begitu banyak belajar agama. Tapi… bukan serta merta begini caranya. Kalau dia mau cari yang bisa membimbingnya secara agama…coba kau tunjuk. Laki-laki mana?”, gemeretak suara gerahamnya ketika kata terakhir ia lontarkan.

Aku terdiam mendengar semprotannya. “Nasehat yang salah ya wak Gam? Bakar dulu rokok. Biar tenang…”, jawabku serba salah. Untung kopi sampai, langsung aku menyeruputnya sambil memutar otak.

“Mungkin, itu hanya sebatas harapan…”, ujarku pelan. “Maksudku, dia.. bagaimana ya…? Aku bukan perempuan. Jadi aku tidak bisa menggambarkan perasaannya…”, tambahku sambil memasang wajah konyol.

“Kalau kau perempuan, dah kukawinin kau dari dulu…”, wajahnya mulai terlihat melembut. “Jika memang akhirnya ia ingin yang jauh lebih baik, tidak perlu di status medsos. Laki-laki baik itu tidak bermain medsos. Laki-laki baik itu di luar sana. Di dunia nyata. Ini, medsos hanya sebatas… bagaimana cara aku ungkapkan…”, ada jeda sejenak dengan mulut terbuka. Terlihat jelek, pikirku. Benar-benar jelek si keriting hitam ini.

Ia kembali bersuara setelah menghisap rokoknya dalam-dalam. “Medsos itu ibarat barang kawe. Terlihat bagus, penuh pesona. Tapi di dunia nyata? Bah taik kucing semua. Bau berserak-serak rata sudut. Kau paham maksudku?”, tanyanya sambil menatap wajahku lekat-lekat. Aku mengangguk, setuju.

“Lihat ini kata-katanya, ‘Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk hidupku di masa datang’”, ucapnya sambil membuka layar. Aku mengangguk-angguk sambil memperhatikan jumlah ‘like’-nya. Cuma beberapa orang. Dan aku yakin, salah satunya adalah cowok lebai juga. Tapi aku diam, tidak berkomentar. “Sebenarnya, dia mengatai aku. Aku tidak cukup baik. Oke… aku tidak cukup baik, tapi bagaimana jika keluarga yang lihat? Apakah tidak memunculkan masalah baru?” gugatnya.

“Kau terlalu berlebihan. Tidak perlu sebegitunya..”, balasku tidak setuju.

“Selain itu, aku mencoba melindungi keponakan yang begitu dekat dengan kami. Ia telah memanggilnya Bunda. Kemana-mana ia membawa foto kami, seolah-olah orangtua dia…”, balasnya cepat. “Kau tahu, Kemarin itu, ketika kami ribut, ia menangis dikelas. Seolah-olah dunia runtuh. Aku sampai dipanggil oleh ibunya menanyakan hubungan kami. Guru di kelasnya menanyakan, kenapa ia menangis? Ternyata hanya gara-gara kami…Ia merasa bersalah. Kau bayangkan? Aku tidak ingin ada mulut usil yang bercerita macam-macam kepada dia. Biar aku yang menjelaskan…”, ia menarik nafas sejenak dan kembali memandang tepat dibola mataku.

“Ah, sulit… kau belum mempunyai hubungan. Kau seorang jomblo pasti sulit memahaminya..”, tudingnya kasar. Aku hanya bisa menelan air ludah pahit, di usia kepala tiga., kami sama-sama belum memiliki ketetapan hati.

Aku pun termenung sambil menarik rokok dalam-dalam, memutar kaset berisi ucapan si Kribo. Penampilannya bak rocker, hati selembut Ona Sutra. “Ya, kalau gitu kau ingatkan baik-baik.  Jumpa langsung. Nasehati untung baik dan buruknya status galau itu”, suaraku terdengar memecah kebisuan kami.

“Aku sudah pernah sampaikan. Ini yang terakhir, caraku. Terpaksa aku bermain lebai, kadung basah dan sudah rusak, biarlah kita pesta makan bangkai. Kita menghidang bangkai, orang lain menyantapnya dengan pesta pora” balasnya lesu.

“Bang… dah coba rokok ini?” tiba-tiba seorang perempuan berseragam merah telah berdiri disamping meja sambil menawarkan rokok. “Kalau abang beli seharga 17ribu, abang dapat mancis yang bisa di isi ulang…”, tawarnya lagi dengan senyum menawan. Aku langsung memandang si Kribo dan mulutnya bersuara, “Dek, abang beli satu… tapi bonusnya jangan mancis ya…”.

“Jadi bonusnya apaan bang?”, balas gadis berbodi aduhai dan menggoda.

“Akun medsos adek aja boleh? Siapa tahu abang bisa bawa pulang hati adek…”, balasnya cepat sambil menyodorkan kertas dan pulpen.

Langsung aku protes dan geleng-geleng kepala, “Alamaaaakkkkkk… Dasar Gam Kribo kau… Baru ribut sama medsos, sudah modus sama sales, baru marah-marah karena mantan adek, sudah sibuk cari adik-adik…Lihat umur waaak…”. Sedang si Gam hanya menatap nanar penuh pesona ke arah gadis muda itu…

#blink-blink #lebai untuk lebai #calon baik itu tidak lebai